Sejak awal diumumkan, One Punch Man Season 3 sebenarnya membawa harapan besar. Banyak fans berharap seri ini bisa bangkit setelah Season 2 yang dulu juga menuai kritik. Namun seiring berjalannya episode, muncul satu kesimpulan yang makin sulit dibantah. Kualitas Season 3 terasa semakin menurun dan kekecewaan penonton terus menumpuk.
Bukan hanya satu dua orang yang mengeluh. Diskusi negatif muncul di berbagai komunitas anime dan media sosial. Masalahnya pun konsisten, mulai dari animasi, pacing, sampai eksekusi adegan penting yang tidak lagi memberi dampak emosional seperti dulu.
Animasi Kehilangan Tenaga dan Identitas
Masalah paling terasa di Season 3 ada pada animasi. Kalau kamu pernah merasakan sensasi menonton Season 1, perbedaannya langsung mencolok. Dulu setiap pukulan Saitama terasa cepat, brutal, dan penuh tekanan visual. Sekarang banyak adegan pertarungan terlihat kaku dan kurang bertenaga. Gerakan karakter sering terasa patah, transisi antar adegan kasar, dan efek serangan tidak lagi meninggalkan kesan. Untuk anime yang identik dengan aksi berlebihan, kehilangan energi ini adalah pukulan telak bagi identitas One Punch Man.
Rating Episode Terbaru Jadi Alarm Bahaya
Kekecewaan fans memuncak ketika beberapa episode terbaru mendapatkan rating yang sangat rendah. Ini bukan sekadar angka, tapi cerminan dari rasa frustrasi penonton yang sudah memberi banyak toleransi di awal. Banyak komentar menyebut Season 3 terasa seperti anime aksi biasa tanpa ciri khas. One Punch Man yang dulu dikenal sebagai standar kualitas justru kini dianggap tertinggal dibanding anime baru yang lebih berani dan rapi secara produksi.
Produksi Terburu Buru Jadi Akar Masalah
Semakin banyak fans yang menyimpulkan bahwa akar masalah Season 3 ada pada sistem produksinya. Deadline ketat dan jadwal padat membuat kualitas animasi tidak mendapatkan waktu pengerjaan yang layak. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di industri anime. Judul besar sering dipaksa tayang cepat demi keuntungan, sementara kualitas menjadi korban. One Punch Man Season 3 terasa seperti contoh nyata bagaimana popularitas justru menjadi bumerang.
Perbandingan dengan Season 1 Tak Terhindarkan
Setiap pembahasan tentang Season 3 hampir selalu berujung pada perbandingan dengan Season 1. Bukan karena nostalgia berlebihan, tapi karena jaraknya terlalu jauh. Season pertama terasa dibuat dengan passion dan kebebasan kreatif, sementara Season 3 terlihat seperti proyek yang sekadar harus selesai. Inkonsistensi kualitas antar episode memperparah keadaan. Ada momen yang masih cukup oke, tapi langsung turun drastis di episode berikutnya. Untuk anime sebesar One Punch Man, hal seperti ini sulit dimaafkan.
Fans Lama Mulai Kehilangan Kepedulian
Yang paling mengkhawatirkan bukan lagi kritik pedas, tapi rasa apatis dari fans lama. Banyak yang mulai berkata bahwa mereka menonton hanya karena sudah terlanjur mengikuti, bukan karena antusias. Ketika sebuah karya kehilangan perhatian dari penggemar setianya, itu tanda bahaya. Bahkan sempat muncul seruan boikot sebagai bentuk protes terhadap kualitas yang dianggap tidak menghargai warisan One Punch Man.
One Punch Man Season 3 di Persimpangan Jalan
Tidak semua orang menganggap Season 3 benar benar buruk. Tapi masalahnya, One Punch Man sendiri yang pernah menetapkan standar tinggi. Ketika standar itu dilanggar berulang kali, kekecewaan menjadi wajar. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, One Punch Man Season 3 berisiko dikenang sebagai titik di mana seri ini kehilangan jati dirinya. Bukan karena ceritanya lemah, tapi karena kualitas produksi yang tidak lagi sejalan dengan besarnya nama yang dibawa.
