Di tengah ribut-ribut cancel culture dan tuduhan nggak jelas, Knight’s Path justru dapet tamparan balik yang cukup keras dari gamer. Bukan dalam bentuk debat di Twitter, tapi dalam bentuk yang paling nyata dan paling sakit buat kaum ribut doang: lebih dari 200.000 wishlist di Steam. Iya, dua ratus ribu. Dan ini datang justru setelah developer-nya diserang karena nolak agenda modern dan bilang mereka fokus bikin game yang fun.
Ribut di Medsos vs Realita Wishlist
Kasus Knight’s Path ini menarik karena kelihatan banget bedanya dunia nyata sama dunia medsos.
Di satu sisi, ada segelintir akun yang teriak-teriak soal representasi, agenda, dan “nilai zaman sekarang”. Di sisi lain, ada ratusan ribu gamer yang dengan tenang ngeklik tombol Add to Wishlist. Tanpa debat panjang. Tanpa drama. Tanpa ceramah. Wishlist ini jadi bukti sederhana bahwa dukungan gamer nyata nggak datang dari yang paling berisik, tapi dari yang benar-benar peduli sama game.
Developer Fokus Fun, Gamer Langsung Respon
Knight’s Path sejak awal jelas arahnya. Ini RPG medieval dengan fokus ke eksplorasi, combat, cerita, dan pengalaman main yang imersif. Developer-nya juga terang-terangan bilang mereka nggak tertarik ngejar agenda modern, tapi pengin bikin game yang seru dimainkan. Dan ternyata, sikap jujur kayak gini justru bikin banyak gamer simpati. Banyak pemain sekarang sudah capek sama game yang: lebih sibuk ngajarin moral daripada ngasih tantangan, lebih fokus ke checklist ideologi daripada gameplay. Knight’s Path datang sebagai pengingat bahwa game boleh punya identitas sendiri.
Modern Audience Lagi-Lagi Nggak Relevan
Yang bikin angka 200 ribu wishlist ini makin menarik adalah satu hal: mayoritas yang dukung Knight’s Path bukan “modern audience” yang sering diklaim industri. Ini gamer lama, gamer inti, gamer yang memang beli dan main game. Bukan yang cuma muncul pas ada drama, lalu hilang waktu game-nya rilis. Wishlist Steam itu gratis, tapi tetap butuh niat. Dan 200 ribu orang nunjukkin niat yang sama: mereka pengin game ini sukses.
We are truly speechless.
— Knight's Path (@Knights_Path) January 27, 2026
200,000 wishlists is beyond anything we imagined.
Thank you for your support, your trust, and for believing in this journey with us! pic.twitter.com/tNsQClg51X
Tuduhan dan Drama Justru Jadi Promosi Gratis
Ironisnya, serangan ke Knight’s Path malah jadi promosi gratis. Semakin diserang, semakin banyak gamer yang penasaran. Semakin dipelintir, semakin banyak yang berdiri di belakang developernya. Bahkan sang developer sendiri sempat kaget melihat lonjakan wishlist ini. Alih-alih minta maaf atau mundur, mereka justru dapat validasi bahwa fokus ke fun masih punya pasar besar.
Gamer Cuma Mau Main Game, Bukan Ikut Agenda
Kasus Knight’s Path ini sebenarnya simpel. Mayoritas gamer cuma mau main game yang: seru, punya visi jelas, dan nggak maksa pemain nerima pesan politik tertentu. Kalau ada yang suka agenda, silakan. Tapi memaksa semua developer ikut jalur yang sama justru bikin industri game makin sempit dan membosankan.
Penutup: 200 Ribu Wishlist Itu Suara Gamer Sebenarnya
Lebih dari 200.000 wishlist di Steam bukan angka kecil. Itu suara kolektif gamer yang bilang: “teruskan, kami dukung.” Knight’s Path sekarang bukan cuma sekadar game indie medieval, tapi juga simbol kecil perlawanan terhadap industri game yang makin jauh dari kata fun. Dan jujur aja, melihat dukungan sebesar ini, kelihatannya yang benar-benar kalah bukan game-nya, tapi narasi lama bahwa gamer peduli agenda lebih dari gameplay.
