Knight’s Path Diserang karena Tolak Agenda, Developer Pilih Fokus Bikin Game Fun

Kadang aku heran, di industri game sekarang, niat bikin game seru aja bisa dianggap dosa besar.Itulah yang lagi dialami Knight’s Path, game RPG medieval yang belum rilis tapi sudah kena serangan bertubi-tubi gara-gara satu hal: developernya berani bilang mereka lebih peduli ke fun daripada agenda modern. Dan anehnya, ini dianggap masalah.


Karakter Cewek Normal, Dunia Game Langsung Ribut

Masalahnya bermula dari pengenalan karakter bernama Amelie, salah satu karakter cewek yang bisa kamu ajak romansa di Knight’s Path. Desainnya simpel, feminin, kelihatan cocok sama dunia medieval. Nggak berlebihan, nggak dibuat aneh-aneh. Harusnya selesai di situ. Tapi di internet, hal normal justru sering jadi bahan drama. Begitu muncul opsi romansa heteroseksual, langsung ada yang nanya soal “representasi”. Bukan nanya gameplay, bukan nanya sistem combat, tapi nanya agenda.


Jawaban Developer yang Jujur, Tapi Bikin Banyak Orang Panas

Developer Knight’s Path jawab pertanyaan itu dengan sangat sederhana:
mereka peduli pada kesenangan bermain, bukan pada agenda modern. Kalimat ini seharusnya jadi hal paling masuk akal di dunia game. Tapi buat sebagian orang, ini dianggap provokasi. Padahal, developer cuma bilang apa yang mayoritas gamer rasakan: game itu dibuat buat dinikmati, bukan buat jadi alat kampanye ideologi.


Modern Audience yang Ribut, Tapi Nggak Beli Game

Yang bikin aku sepenuhnya dukung developer Knight’s Path adalah satu fakta pahit yang sering diabaikan industri: modern audience yang paling vokal biasanya bukan pembeli game. Mereka ribut di media sosial, bikin trending, teriak cancel, tapi begitu gamenya rilis? Sepi. Penjualan nggak gerak. Komunitas inti ditinggal. Sementara mayoritas gamer yang benar-benar beli game itu penginnya simpel: game seru, mekanik solid, cerita menarik, dan nggak dijejali propaganda political correct.


Game Medieval Dipaksa Ikut Standar Twitter

Knight’s Path itu game medieval RPG. Dunianya soal ksatria, kerajaan, konflik klasik, dan fantasi lama. Tapi tetap saja ada tuntutan supaya: semua harus representatif, semua harus modern, semua harus sesuai nilai hari ini. Masalahnya, kalau semua game dipaksa ikut pola yang sama, akhirnya dunia game jadi hambar. Nggak ada identitas. Nggak ada keberanian. Nggak ada visi kreatif. Developer Knight’s Path justru patut diapresiasi karena berani berdiri di jalurnya sendiri.



Tuduhan AI dan Manipulasi, Pola Lama yang Diulang

Setelah gagal memaksa developer tunduk, muncul pola klasik berikutnya: tuduhan game dibuat pakai AI, gambar dimanipulasi, narasi dibelokkan. Ini bukan soal kualitas game lagi. Ini soal menghukum developer karena nggak mau nurut. Dan jujur aja, pola kayak gini sudah sering kejadian, tapi hasil akhirnya hampir selalu sama: developer yang konsisten biasanya justru dapat dukungan dari gamer sungguhan.


Mayoritas Gamer Sudah Capek Sama Ceramah di Game

Aku yakin kamu juga ngerasain hal yang sama. Banyak gamer sekarang sudah lelah dengan game yang: lebih sibuk ngasih pesan moral daripada gameplay, lebih fokus ke checklist ideologi daripada fun. Game itu seharusnya pelarian. Bukan kelas ideologi, bukan ruang debat politik, dan bukan alat validasi sosial.


Penutup: Developer Berhak Bikin Game Sesuai Visinya

Aku sepenuhnya dukung developer Knight’s Path. Bikin game yang kamu mau, dengan visi yang kamu percaya, dan fokus ke gamer yang benar-benar peduli sama game. Nggak semua orang harus disenangkan. Apalagi mereka yang nggak akan beli game-nya tapi paling kencang teriaknya.

Kalau industri game mau sehat lagi, justru developer yang berani bilang
“kami bikin game buat fun” yang seharusnya didukung, bukan diserang.

Lorenime

Seorang cowo biasa yang kebetulan suka main games khususnya Resident Evil

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama