Prince of Persia Batal Total, Ini Alasan Asli di Baliknya

Kalau kamu masih bertanya-tanya kenapa proyek Prince of Persia yang sempat diumumkan itu ujung-ujungnya menghilang tanpa jejak, sekarang jawabannya mulai kebuka. Bukan karena “butuh waktu lebih lama” atau “visi kreatif berubah”, tapi karena dari dalam sendiri, proyek ini ternyata udah busuk sejak awal. Sebuah tweet dari orang yang ngaku punya sumber internal Ubisoft ngebongkar kenyataan pahit soal gim ini. Dan jujur aja, setelah baca detailnya, keputusan pembatalan itu malah terasa kayak jalan terakhir yang mau nggak mau harus diambil.


“Gamenya Parah Banget” — Kata Orang Dalam

Menurut sumber tersebut, kondisi gim Prince of Persia ini udah masuk kategori nggak ketolong. Bukan sekadar butuh polishing atau delay satu tahun, tapi secara fundamental memang bermasalah.

Sebagian besar pengembangannya dilakukan oleh Ubisoft India, hampir 90% proyek ada di tangan studio ini. Masalahnya, hasil akhirnya dinilai kacau. Bukan cuma soal visual atau performa, tapi juga desain gameplay, flow permainan, dan identitas Prince of Persia itu sendiri. Singkatnya, gim ini nggak terasa kayak Prince of Persia. Dan buat IP sebesar itu, ini dosa besar.


Dipindah Mendadak ke Ubisoft Montreal, Tapi Terlambat

Ketika internal Ubisoft sadar proyek ini makin ke arah jurang, mereka akhirnya mengambil langkah panik: memindahkan proyek ke Ubisoft Montreal di menit-menit terakhir. Tujuannya jelas, berharap studio senior ini bisa “memperbaiki” semuanya. Masalahnya, begitu Montreal masuk dan membedah proyeknya, kesimpulannya pahit. Struktur gimnya udah salah dari awal. Fondasinya rapuh. Mau diperbaiki pun, biayanya setara bikin ulang dari nol. Dengan kata lain, game ini unfixable.


Akhirnya Dibatalkan, Bukan Ditunda

Di titik ini, Ubisoft dihadapkan pada pilihan yang sama-sama pahit: lanjutkan proyek yang secara teknis dan kreatif gagal, atau hentikan sebelum makin banyak uang terbakar. Dan kita tahu hasil akhirnya. Prince of Persia resmi dikubur, bukan karena kurang waktu, tapi karena proyeknya sendiri adalah bencana.


Ubisoft dan Kebiasaan Menghancurkan IP Sendiri

Jujur aja, di titik ini susah buat ngerasa kasihan sama Ubisoft. Mereka pantas dapet kejatuhan ini. Hampir setiap IP besar yang mereka pegang, entah kenapa selalu berakhir rusak di tangan mereka sendiri. Prince of Persia, Assassin’s Creed, Ghost Recon, bahkan Splinter Cell yang sampai sekarang cuma jadi bahan nostalgia. Semua IP ini pelan-pelan kehilangan identitas karena satu hal: Ubisoft nggak becus ngurus game.

Alih-alih fokus bikin gameplay solid dan pengalaman yang niat, mereka lebih sibuk ngejar tren, monetisasi berlebihan, dan agenda “woke” yang dipaksakan ke dalam gim yang seharusnya fokus ke cerita dan dunia yang kuat. Bukan berarti representasi itu salah, tapi ketika dipaksakan dan malah mengorbankan kualitas, hasilnya ya begini. Game jadi kehilangan jiwa, kehilangan arah, dan akhirnya ditinggal pemain.

Lorenime

Seorang cowo biasa yang kebetulan suka main games khususnya Resident Evil

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama