Freya Karakter Paling Hipokrit di Serial GOW

Kalau ngomongin karakter paling bermasalah di God of War era Norse, banyak orang langsung nyebut Odin. Wajar. Dia manipulatif, licik, dan jelas villain. Tapi justru karena itu, Odin jujur sebagai penjahat. Freya? Dia beda cerita. Freya bukan sekadar karakter abu-abu. Dia adalah contoh karakter yang melakukan kesalahan fatal, menghancurkan hidup orang lain, tapi menolak bertanggung jawab, lalu dilindungi narasi seolah dia korban terbesar. Dan itu bikin dia, secara penulisan, irredeemable.


Semua Tragedi Dimulai dari Freya

Masalah Baldur bukan muncul dari kehampaan. Itu bukan “takdir”, bukan “kutukan dewa”, bukan pula ulah Kratos. Itu keputusan Freya sendiri. Freya secara sadar: menghilangkan free will Baldur, memberinya spell yang membuat dia tak bisa merasakan apa pun, dan memutus hak dasar anaknya atas tubuh dan hidupnya sendiri.

Tidak bisa merasa sakit mungkin terdengar “aman”. Tapi tidak bisa merasa apa pun adalah neraka. Baldur hidup ratusan tahun tanpa: sentuhan, rasa hangat, emosi normal, bahkan rasa sakit yang membuktikan dia masih hidup. Itu bukan perlindungan. nItu torture psikologis jangka panjang.


Baldur Jadi Monster karena Free Will-nya Dirampas

Game sering memperlakukan Baldur sebagai antagonis tanpa ampun. Tapi kalau kamu lihat akarnya, agresi Baldur itu reaksi yang sangat manusiawi. Bayangkan hidup tanpa kendali atas diri sendiri. Setiap keputusan penting diambil orang lain. Tubuhmu bukan milikmu.

Freya bukan cuma takut kehilangan anak. Dia takut kehilangan kontrol. Dan ironisnya, dia masih tidak mengerti kenapa Baldur membencinya setengah mati. Di kepalanya: “Aku ibu yang berkorban.” Di realita: “Aku ibu yang memaksakan kehendak dan menolak mendengar.”


Kratos Membunuh Baldur untuk Menyelamatkan Freya

Ini bagian yang paling bikin emosi. Saat Baldur akhirnya hendak membunuh Freya, itu adalah konsekuensi langsung dari perbuatan Freya sendiri. Tidak ada plot twist di sini. Ini sebab-akibat murni. Dan siapa yang turun tangan? Kratos. Kratos membunuh Baldur: n bukan karena dendam,bukan karena haus darah, tapi untuk menyelamatkan Freya. Padahal Kratos tahu betul: ikut campur urusan keluarga orang hampir selalu berujung tragedi.

Dan reaksi Freya? Bukan terima kasih. Bukan refleksi diri. Bukan kesadaran bahwa tindakannya menciptakan monster. Tapi kemarahan. Kebencian. Dan sumpah dendam pada Kratos. Ini titik di mana Freya kehilangan simpati sepenuhnya.


Freya Selalu Menyalahkan Orang Lain

Masuk God of War Ragnarok, kamu berharap ada perkembangan. Setidaknya satu momen Freya berhenti dan berkata: “Semua ini salahku.” Tapi itu tidak pernah benar-benar terjadi. Yang terjadi justru: Freya menyalahkan Kratos, menyalahkan Odin, menyalahkan dunia, menyalahkan takdir.

Satu-satunya yang tidak pernah benar-benar dia salahkan adalah dirinya sendiri. Bahkan ketika Kratos jelas-jelas: menyelamatkan nyawanya, mengorbankan stabilitas emosionalnya, dan kembali memikul dosa yang sebenarnya bukan miliknya, Freya tetap menempatkan Kratos sebagai pihak yang harus memikul beban moral.

sumjber: YouTube

Narasi Game Melindungi Freya

Masalah terbesar Freya bukan hanya tindakannya, tapi cara game menuliskannya. Freya tidak pernah benar-benar dihadapkan pada penghakiman moral yang setara. Tidak ada karakter yang secara tegas berkata: n“Apa yang kamu lakukan ke Baldur itu kejam.”

Sebaliknya, semua konflik Freya dibingkai sebagai: trauma yang perlu dipahami, luka yang wajar, emosi yang bisa dimaklumi. Bandingkan dengan Kratos. Kratos: terus diingatkan soal masa lalunya, terus dipaksa menyesal, terus diposisikan sebagai figur yang harus “belajar”. Padahal Kratos menghadapi konsekuensi langsung dari perbuatannya. Dia kehilangan segalanya, berulang kali. n Freya? Diperlakukan sebagai korban suci. Ini bukan karakter kompleks. Ini double standard naratif.


Freya Bukan Karakter Tragis, Tapi Egois

Karakter tragis adalah karakter yang: salah, menyadari kesalahan, dan hidup dengan konsekuensinya. Freya gagal di poin kedua. Dia tidak berkembang lewat refleksi, tapi lewat rasionalisasi. Semua keputusannya selalu dibenarkan oleh rasa takut dan cinta versi dirinya sendiri. Dan selama dia tidak mau bercermin, tidak peduli seberapa besar penderitaannya, dia tetap: egois, self-centered, dan tidak bisa ditebus.


Irredeemable karena Menolak Tanggung Jawab

Freya bukan irredeemable karena masa lalunya. Dia irredeemable karena menolak tanggung jawab moral atas tindakannya sendiri. Baldur adalah korban. Kratos adalah kambing hitam. Freya adalah pemicu tragedi. Dan selama narasi God of War Norse Saga terus melindungi Freya dari pengakuan jujur atas kesalahannya, rasa kesal pemain itu bukan kebencian tanpa alasan, tapi reaksi logis terhadap penulisan karakter yang timpang. Kadang, karakter paling berbahaya bukan yang jujur jahat, tapi yang merasa dirinya selalu benar.

Lorenime

Seorang cowo biasa yang kebetulan suka main games khususnya Resident Evil

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama