God of War Ragnarok Bikin Kratos Kehilangan Aura Ikoniknya

Buat kamu yang tumbuh bareng God of War era PS2 sampai PS3, pasti ngerti kenapa banyak fans lama ngerasa ada yang nggak beres sama Kratos versi baru. Apalagi pas masuk ke God of War Ragnarok. Bukan soal grafis, bukan soal gameplay, tapi soal jiwa karakter. Kratos dulu adalah simbol amarah, tragedi, dan konsekuensi. Sekarang? Dia terasa seperti karakter yang harus terus minta maaf atas keberadaannya sendiri.


Kratos Yunani: Amarah yang Masuk Akal

Kratos era Yunani bukan sekadar “brutal”. Dia dibentuk oleh pengkhianatan. Dewa-dewa Olympus mempermainkan hidup manusia, berbohong, memanipulasi, dan memperalat Kratos sampai titik dia kehilangan segalanya. Ketika Kratos membantai para dewa, itu bukan aksi villain kosong. Itu righteous fury.

Balas dendam atas sistem ilahi yang korup. Zeus bukan figur ayah bijak. Ares bukan dewa perang mulia. Olympus adalah simbol kekuasaan busuk. Kratos menghancurkannya karena tidak ada lagi keadilan di sana. Dan yang penting: game tidak pernah memaksa pemain untuk menganggap Kratos salah secara moral. Brutal? Iya. Tragis? Banget. Tapi logis.


God of War 2018: Perubahan yang Masih Masuk Akal

Masuk ke God of War 2018, Kratos berubah. Dia lebih pendiam, lebih terkendali, lebih reflektif. Tapi perubahan ini organik. Dia bukan malu jadi Kratos. Dia hanya takut mengulang kesalahan yang sama ke anaknya.m Atreus masih hormat. Masih takut. Masih melihat Kratos sebagai figur otoritas. Bahkan saat Kratos salah, posisinya tetap ayah yang disegani. Kratos 2018 itu bukan dilemahkan. Dia dimatangkan.


Ragnarok: Saat Kratos Kehilangan Wibawa

Masalahnya mulai terasa di Ragnarok. Kratos di sini bukan lagi figur yang dihormati, tapi karakter yang sering diposisikan salah oleh narasi. Atreus lebih sering membantah, ngeyel, jalan sendiri, dan menyepelekan peringatan ayahnya. Padahal Kratos berbicara dari pengalaman: pengkhianatan, manipulasi, dan kehancuran dunia. Tapi suara Kratos sering dianggap: “terlalu keras”, “terlalu kolot”, “terlalu terikat masa lalu”. Freya pun beberapa kali secara eksplisit menyuruh Kratos diam. Ini bukan diskusi setara, tapi narasi yang menempatkan Kratos sebagai pihak yang harus belajar menahan diri, sementara karakter lain bebas menghakimi. Untuk karakter yang dulu bikin Olympus gemetar, ini terasa… janggal.

Sumber : reddit (iam  ashamed to take reddit as source)

Kratos Dipaksa Menyesal atas Hal yang Tidak Salah

Yang paling mengganggu adalah cara Ragnarok memperlakukan masa lalu Kratos. Pembantaian Olympus diperlakukan seperti dosa besar yang harus terus dia sesali, seolah-olah para dewa Yunani adalah korban. Padahal kita tahu: mereka bukan korban, mereka adalah penyebab. Game seakan ingin bilang: “Kratos salah karena terlalu brutal.” Padahal realitanya: Kratos brutal karena tidak ada pilihan lain. Ini bukan refleksi mendalam, tapi lebih ke moral lecturing.


Narasi Modern dan Ketakutan pada Karakter Maskulin

Masalah ini bukan cuma soal Kratos. Ini pola yang sering muncul di game modern. Karakter pria kuat, tegas, penuh amarah: bukan dikembangkan, tapi dijinakkan. Bukan melalui konflik internal yang kompleks, tapi dengan: rasa bersalah berlebihan, pengurangan otoritas, dan penghakiman dari karakter lain. Kratos di Ragnarok terasa seperti simbol “maskulinitas lama yang harus dikoreksi”. Bukan dipahami, tapi ditundukkan. nIronisnya, banyak karakter antagonis Norse justru ditulis lebih simpatik dan “manusiawi” dibanding Kratos.


Dari Tragedi Menjadi Domestic Drama

Kratos dulu adalah tragedi epik berskala dewa. Ragnarok mengubahnya jadi drama domestik. Bukan salah sepenuhnya, tapi eksekusinya bikin Kratos kehilangan aura yang membuatnya ikonik. Dia bukan berkembang ke arah yang lebih kuat. Dia dikecilkan supaya sesuai narasi. Dan buat fans lama, wajar kalau muncul perasaan: “Ini Kratos, tapi bukan Kratos.”


Kesimpulan: Bukan Soal Nostalgia, Tapi Konsistensi Karakter

Kritik ke Kratos Ragnarok bukan karena fans nggak suka perubahan. Fans suka perkembangan yang jujur dan konsisten. God of War 2018 berhasil. Ragnarok terlalu jauh menekan karakter utamanya sendiri. Kratos seharusnya bisa reflektif tanpa kehilangan wibawa. Bisa menyesal tanpa diposisikan salah terus-menerus. Bisa jadi ayah tanpa dibuat tak dihormati. Kratos bukan monster yang perlu dijinakkan. Dia adalah simbol konsekuensi dari dunia yang rusak. Dan ketika game mulai malu dengan karakter yang membesarkannya, di situlah masalah sebenarnya muncul.

Lorenime

Seorang cowo biasa yang kebetulan suka main games khususnya Resident Evil

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama